Juventus Berhasil Menjuara Liga Italia Serie A 2016/2017


http://www.terbaruz.com/2017/05/juventus-berhasil-menjuara-liga-italia.html
Juventus Berhasil Menjuara Liga Italia Serie A 2016/2017

TERBARUZ.COM - Juventus berhasil menjuarai Liga Italia . Bianconeri dipastikan menjadi juara Liga Italia musim 2016/2017 setelah membungkam Crotone dengan skor 3-0 tanpa di balas di giornata 37.

Menjamu Crotone di Juventus Stadium, Minggu (21/5/2017), Juventus turun dengan kekuatan terbaiknya. Tim asuhan Massimiliano Allegri itu menguasai jalannya laga dari awal hingga akhir.

Mario Mandzukic mengawali kemenangan Juve lewat golnya pada menit ke-13. Paulo Dybala kemudian menggandakan keunggulan tim tuan rumah melalui tendangan bebasnya pada menit ke-39. Pada paruh kedua, Juventus hanya bisa mencetak satu gol tambahan melalui Alex Sandro pada menit ke-83.

Kemenangan ini sudah cukup untuk mengamankan Juventus di posisi teratas klasemen Serie A hingga akhir musim. Mereka kini mengumpulkan 88 poin dari 37 laga, unggul empat poin atas AS Roma yang berada di posisi kedua. Dengan satu laga tersisa, Juventus dipastikan menjadi juara.

Bagi Juventus, ini adalah scudetto ke-33 atau yang keenam secara beruntun. Mereka menjadi tim pertama dalam sejarah yang bisa meraih enam scudetto secara beruntun.

Jalannya Pertandingan

Tampil menekan sejak kick-off, Juventus memperoleh kesempatan untuk unggul pada menit kedelapan. Namun, tendangan bebas Miralem Pjanic tak menemui sasaran.

Juventus benar-benar unggul lima menit kemudian melalui gol Mandzukic. Memanfaatkan umpan silang Juan Cuadrado dari sisi kanan, Mandzukic yang berada di tiang jauh menyontek si kulit bundar untuk membawa tim tuan rumah memimpin 1-0.

Juventus baru bisa menambah keunggulannya saat pertandingan berusia 39 menit. Pelanggaran terhadap Cuadrado di luar kotak penalti berbuah tendangan bebas untuk Juve. Dybala yang menjadi eksekutor tendangan bebas tersebut berhasil mengirimkan bola melewati pagar hidup pemain Crotone dan membuat kiper Alex Cordaz hanya terdiam.

Tak ada gol lainnya di sisa babak pertama. Juventus masih unggul 2-0 saat turun minum.

Juventus berpeluang mencetak gol ketiga pada awal babak kedua. Namun, tembakan Cuadrado dari sudut sempit bisa diantisipasi oleh Cordaz.

Dalam sebuah serangan balik pada menit ke-56, Dybala langsung berhadapan dengan Cordaz dan menjebol gawang Crotone. Namun, gol ini tak disahkan oleh wasit lantaran Dybala lebih dulu terperangkap jebakan offside.

Peluang yang didapatkan Pjanic pada menit ke-75 tak berbuah gol untuk Juve. Tembakannya dari dalam kotak penalti masih melenceng dari sasaran.

Crotone bukannya tak memiliki peluang. Pada menit ke-79, mereka membahayakan gawang Gianluigi Buffon melalui tembakan jarak jauh Andrea Barberis. Beruntung buat Juve, bola tembakan Barberis masih sedikit melebar.

Tujuh menit menjelang berakhirnya waktu normal, Juventus memperbesar keunggulannya menjadi 3-0. Sundulan Alex Sandro meneruskan sepak pojok Dybala mengenai mistar dan kemudian memantul ke tanah. Dengan bantuan teknologi garis gawang, wasit menyatakan bahwa telah terjadi gol.

Di injury time, Mandzukic nyaris mencetak gol melalui tendangan spekulasi dari jarak jauh. Namun, tembakannya ditepis oleh Cordaz.

Susunan Pemain
Juventus: Buffon; Dani Alves, Bonucci, Benatia, Alex Sandro; Marchisio (Lemina 74'), Pjanic (Rincon 84'); Cuadrado (Barzagli 70'), Dybala, Mandzukic; Higuain

Crotone: Cordaz; Rosi (Sampirisi 35'), Ceccherini, Ferrari, Martella; Rohden (Acosty 78'), Crisetig, Barberis, Nalini; Tonev (Nwankwo 57'), Falcinelli
(mfi/din)

Gol Indah Dybala Membawa Juventus Menjuarai Liga Italia 2016/2017

 
http://www.terbaruz.com/2017/05/gol-indah-dybala-membawa-juventus.html
Gol Indah Dybala Membawa Juventus Menjuarai Liga Italia 2016/2017

TERBARUZ.COM - Si Nyonya Tua memastikan diri merebut  gelar juara Liga Italia setelah mengalahkan Crotone dengan skor 3-0 di Juventus Stadium, Minggu (21/5/2017) malam.

Tiga gol Juve disarangkan Mario Mandzukic, Paulo Dybala dan Alex Sandro. Dengan kemenangan ini maka poin Bianconeri menjadi 88 dan tidak mungkin lagi terkejar oleh AS Roma yang baru mengemas 84 angka dan tinggal menyisakan satu laga.

Meski kalah dari Juve, Crotone masih bisa bernafas lega karena belum terdegradasi. Pesaingnya, Empoli yang satu strip berada di atas kalah 1-0 dari Atalanta. Crotone  saat ini mengumpulkan 31 poin sedangkan Empoli 32.

Dalam pertandingan Juve vs Crotone, pasukan Massimiliano Allegri memulai laga dengan tempo tinggi, sementara Crotone yang berjuang demi lolos dari zona degradasi bermain rapat.

http://www.terbaruz.com/2017/05/gol-indah-dybala-membawa-juventus.html
Gol Indah Dybala Membawa Juventus Menjuarai Liga Italia 2016/2017

Gol Mandzukic di menit 12 akhirnya memecah kebuntuan. Pemain asal Kroasia itu sukses menjebol gaawang Crotone yang dijaga Alex Cordaz setelah menyontek umpan tarik yang disodorkan Juan Cuadrado.

Dybala turut mencatatkan namanya di papan skor. Striker asal Argentina itu mencetak gol indah lewat tendangan bebas melengkung di menit 39.

http://www.terbaruz.com/2017/05/gol-indah-dybala-membawa-juventus.html
Gol Indah Dybala Membawa Juventus Menjuarai Liga Italia 2016/2017

Memasuki babak kedua, pasukan Si Nyonya Tua sedikit mengendurkan serangan. Meski hanya bermain aman, Alex Sandro masih mampu menjebol gawang Crotone lewat sundulan kepala memanfaatkan umpan sepak pojok Dybala di menit 83.

http://www.terbaruz.com/2017/05/gol-indah-dybala-membawa-juventus.html
Gol Indah Dybala Membawa Juventus Menjuarai Liga Italia 2016/2017

Dengan prestasi ini, Juve mencatatkan rekor baru di Serie A sebagai tim pertama yang mampu menjuarai Liga Italia secara enam kali secara beruntun. Sebelumnya Juventus juga telah menorehkan baru di ajang Coppa Italia dengan mempertahankan sebanyak tiga kali berturut-turut.

Juventus kini tinggal meraih gelar Liga Champions guna memenuhi ambisi meraih treble winners musim ini. Di final Liga Champions yang akan diadakan di Cardiff pada tanggal 4 Juni dini hari, Juventus akan melawan Real Madrid.

Susunan pemain Juventus vs Crotone:

Juventus: Buffon; Dani Alves, Bonucci, Benatia, Alex Sandro; Marchisio (Lemina 74), Pjanic (Rincon 84); Cuadrado (Barzagli 70), Dybala, Mandzukic; Higuain

Crotone: Cordaz; Rosi (Sampirisi 34), Ceccherini, Ferrari, Martella; Rohden (Acosty 78), Crisetig, Barberis, Nalini; Tonev (Simy 57), Falcinelli

Fakta Real Madrid Tidak Akan Gagal Juara Liga Spanyol


http://www.terbaruz.com/2017/05/fakta-real-madrid-tidak-akan-gagal.html
Fakta Real Madrid Tidak Akan Gagal Juara Liga Spanyol

TERBARUZ.COM - Madrid hanya membutuh satu poin lagi untuk memastikan menjadi juara Liga Spanyol 2016/17. Penentuan ini bakal terlaksana saat Real Madrid bertandang ke markas Malaga di La Rosaleda pada hari Minggu atau Senin (22/5/2017) dini hari WIB.

Real Madrid sudah melewati tantangan demi tantangan dengan baik dan sempurna. Termasuk menuntaskan laga tunda hadapi Celta Vigo dengan skor telak 4-1.

Banyak pihak yang menilai jika laga itu merupakan penentu sebenarnya Real Madrid bisa juara Liga Spanyol. Padahal, Real Madrid harus jalani satu laga tandang lagi melawan Malaga.

Banyak juga yang mengungkit trauma Tenerife yang dialami Real Madrid pada 1991/92. Pada laga terakhir, Tenerife kalahkan Madrid dan berikan gelar kepada Barcelona.

Marca meyakini, kejadian di Tenerife tak akan terulang. Berikut 5 alasan yang membuat Real Madrid tidak akan gagal juara Liga Spanyol:

Madrid Lebih Meyakinkan

Real Madrid dibawah asuhan Zinedine Zidane diyakini lebih meyakinkan ketimbang Real Madrid di era Leo Benhakker pada 1991/92. Saat itu, kondisi perebutan juara sama dengan musim ini.

Real Madrid juga unggul 2 poin di klasemen. Real Madrid harus menang karena jika diadu head to head dengan Barcelona yang dilatih Johan Cruyff, Real Madrid bakal gagal.

Saat itu, Barcelona lebih unggul selisih gol. Maka itu, Madrid harus menang lawan Tenerife. Faktanya, Madrid malah tumbang dan harus relakan gelar juara ke rival abadi Barcelona.

Inilah yang membedakan musim itu dengan musim sekarang. Madrid hanya butuh hasil imbang di laga ini. Asal tidak kalah, Madrid masih bisa memboyong trofi juara.

Madrid Tangguh di Laga Tandang

Real Madrid di era 1991/92 juga tidak tangguh di laga tandang. Berbeda dengan Madrid musim ini yang tampil meyakinkan saat lakoni laga tandang.

Di Liga Champions, Real Madrid malah melempem saat main di kandang sendiri. Mereka justru menggila saat lakoni laga tandang.

Kala itu, Madrid hanya mampu menang satu laga dari 12 laga tandang. Kemenangan didapatkan lawan Albacete. Sedangkan selebihnya 7 kekalahan dan 4 kali imbang.

Sedangkan Madrid musim ini sangat menakutkan. Total, Madrid hanya kalah dua kali di laga tandang (Sevilla dan Valencia dengan skor 2-1) plus laga kandang melawan Barcelona di El Clasico.

Madrid juga ganas di laga tandang dengan mampu jaringkan 54 gol. Jumlah gol ini lebih banyak 4 gol dari laga kandang. Ironis bukan?

Ronaldo on Fire

Satu lagi fakta yang membuat Madrid musim ini tak akan gagal yaitu Cristiano Ronaldo. Bintang Real Madrid ini sedang on fire di waktu yang tepat.

Bagaimana tidak, Ronaldo sudah cetak 13 gol di 10 laga terakhir. Rinciannya yaitu 5 gol ke Munchen, 3 gol lawan Atletico dan satu lawan Valencia, dua lawan Sevilla dan dua lawan Celta Vigo.

Ronaldo pun dalam kondisi fisik yang fit. Dengan begitu, bukan suatu yang sulit baginya untuk cetak gol lagi melawan Malaga.

Dalam pertemuan sebelumnya, Ronaldo memang kerap kesulitan untuk mencetak gol lawan Malaga. Akan tetapi dengan kondisi bagus seperti sekarang, Ronaldo seakan amat sangat sulit untuk dihentikan. Jikapun dia tidak mencetak gol, Ronaldo terkadang selalu memberikan assist buat rekan-rekannya.

Juventus Bangkit di Coppa Italia Setelah Tumbang Oleh As Roma

http://www.terbaruz.com/2017/05/juventus-bangkit-di-coppa-italia.html
Juventus Bangkit di Coppa Italia Setelah Tumbang Oleh As Roma

TERBARUZ.COM - Setelah tumbang oleh AS Roma pada laga Serie A pekan lalu, ternyata memberikan dampak positif yaitu membangkitkan kembali  Lavecchia Signora. Dampaknya pun sangat positif, Juventus berhasil mengamankan trofi pertamanya pada musim ini dengan berhasil mengalahkan Lazio 2-0 pada laga final Coppa Italia, Kamis (18/5) dini hari WIB.

Dani Alves dan Bonucci mencetak gol kemenangan di babak pertama pertandingan yang digelar di Stadion Olimpico, Roma. Di stadion yang sama pekan lalu, Bianconeri kalah dengan skor 1-3 dari Roma di Serie A, yang membuat mereka menunda pesta Scudetto.

Bonucci mengatakan, laga melawan Lazio di final Coppa Italia ini adalah pertandingan yang sulit. Namun, Juventus mengambil pendekatan yang tepat dan kembali menemukan kualitas mereka.

"Kekalahan pada hari Minggu itu bagus, membangunkan kami dan sekarang kami harus fokus pada Crotone," kata Bonucci kepada Rai Sport, dilansir dari Football Italia, Kamis (18/5).

Bonucci menilai Lazio memiliki kualitas mumpuni dalam serangan. Karena itu, menurutnya, wajar jika Bianconeri sempat mendapatkan ancaman. Namun beruntung, Neto menjadi penyelamat gawang Juventus pada laga kali ini.

Bek timnas Italia ini mengatakan, ia mengakui timnya bermain lamban dan tidak cukup tajam pada babak kedua saat melawan Roma. Karena itu, kekalahan tersebut membuat mereka bangkit dan siap menghadapi 20 hari ke depan dengan semangat.

"Kami tahu sebelumnya bahwa ini adalah Juventus sejati. Coppa Italia mengizinkan mereka yang tidak bermain sebaik mungkin untuk mencatat sejarah mereka dan saya berterima kasih kepada pelatih dan klub, karena memberi tim begitu banyak kualitas dan keuletan musim ini," kata dia.

Manchester United Bukan Tujuan Utama Antoine Griezmann


http://www.terbaruz.com/2017/05/manchester-united-bukan-tujuan-utama.html
Manchester United Bukan Tujuan Utama Antoine Griezmann
TERBARUZ.COM - Rumor tentang masa depan pemain Atletico Madrid, Antoine Griezmann, memang masih menjadi tanda tanya. Sang pemain pun selalu dihubungkan dan dikaitkan dengan tim asal Inggris Manchester United di  sepanjang musim ini.

Banyak kabar mengatakan Setan Merah siap membayar klausul sang pemain yang ditetapkan Atletico. Meski begitu, Griezmann selalu menjawab pertanyaan dengan candaan.

Terbaru sang pemain menjawab pertanyaan ini dengan menarik. Griezmann yang merupakan penggemar NBA mengaku bisa meninggalkan Atletico.

"Saya hanya akan meninggalkan Atletico untuk bermain bersama Derrick Rose," ujarnya pada ​Cadena Ser.

Rose adalah pebasket andalan New York Knicks, sehingga maksud Antoine Griezmann adalah bermain di tim basket tersebut.

Griezmann pun mengatakan, "Saya sangat nyaman di Atletico Madrid dan akan bertemu agen dan CEO tim untuk membicarakan apa yang bakal terjadi. Saya bahagia secara personal di luar maupun di dalam lapangan. Saya mencintai rekan-rekan dan Diego Simeone. Saya ingin mengangkat titel untuk Atletico Madrid dan memberikan segalanya,"

Transfer Antoine Griezmann disinyalir akan menjadi salah satu sorotan yang sangat menarik untuk selalu di pantau pada musim panas mendatang. Karena banyak rumor berita yang beredar dan peluang dia untuk pergi dari Atletico juga masih amat sangat besar sekali.

Peluang Barcelona dan Real Madrid Menjuarai La Liga Musim 2016/2017


http://www.terbaruz.com/2017/05/peluang-barcelona-dan-real-madrid.html
Peluang Barcelona dan Real Madrid Menjuarai La Liga Musim 2016/2017
TERBARUZ.COM - Tim asuhan Luis Enrique Barcelona sukses meraih kemenangan  dengan skor 3-2 atas Real Madrid pada laga pekan ke-33 La Liga, bermain di kandang Real Madrid Stadion Santiago Bernabeu, Minggu (23/4/2017). Dengan hasil tersebut membuat peta perebutan gelar juara La Liga musim 2016-17 menjadi semakin sengit dan menegangkan.

Saat ini Barcelona menghuni peringkat pertama dengan 75 poin di klasemen sementara. Mereka hanya unggul rekor pertemuan dari Real Madrid di urutan kedua dengan perolehan poin serupa. Akan tetapi, skuat Zinedine Zidane masih memiliki tabungan satu laga.

Namun, situasi itu tidak membuat Real Madrid diunggulkan untuk menjadi kampiun La Liga musim ini. Mereka masih harus berjumpa setidaknya dua tim kuat di kompetisi domestik.

Real Madrid dijadwalkan akan melakoni laga kandang melawan Valencia dan Sevilla. Pasukan Zinedine Zidane berpotensi kehilangan poin pada periode ini, mengingat sempat menelan pil pahit ketika kontra dua klub tersebut.

Valencia dan Sevilla tercatat sama-sama berhasil meraih kemenangan 2-1 atas Real Madrid di ajang La Liga musim ini. Hasil serupa tentunya bisa terulang, andai Cristiano Ronaldo dan kawan-kawan gagal menjaga fokus saat bersua kedua tim itu.

Pada sisi lain, Barcelona memiliki jadwal yang lebih "bersahabat" ketimbang Real Madrid. Dari kelima calon lawan yang bakal dihadapi, Villarreal merupakan satu-satunya tim yang berpeluang merepotkan Barcelona.

Anggapan itu dikarenakan Barcelona sempat bermain 1-1 melawan Villarreal pada pertandingan pekan ke-17 La Liga, di Stadion El Madrigal, 8 Januari 2017.

Berkaca dari jadwal yang akan dilalui, kemungkinan terburuk Barcelona adalah takluk saat bersua Villarreal. Begitupun halnya dengan Real Madrid yang berpotensi tidak mendapat satu angka pun saat melawan Sevilla dan Valencia.

Jika skenario ini teralisiasi, Maka Barcelona dan Real Madrid akan sama-sama meraih poin 95 di klasemen akhir. Akan tetapi, dengan catatan Barcelona maupun Real Madrid  harus meraih kemenangan pada laga-laga lainnya.

Namun, Barcelona lah yang akan menjadi juara La Liga  meski memiliki poin yang sama dengan Real Madrid. Hal itu dikarenakan Barcelona unggul rekor pertemuan atas Real Madrid.

Berikut adalah jadwal pertandingan Real Madrid dan Barcelona, beserta prediksi poin yang akan di dapatkan oleh kedua tim pada sisa musim La Liga 2016-2017 versi Terbaruz.com

Real Madrid (enam pertandingan sisa)

(05/02/2017) - Celta Vigo vs Real Madrid (3 poin)
(26/04/2017) - Deportivo La Coruna vs Real Madrid (3 poin)
(30/04/2017) - Real Madrid vs Valencia (0 poin)
(07/05/2017) - Granada vs Real Madrid (3 poin)
(14/05/2017) - Real Madrid vs Sevilla (0 poin)
(21/05/2017) - Malaga vs Real Madrid (3 poin)

Barcelona (lima pertandingan sisa)

(26/04/2017) - Barcelona vs Osasuna (3 poin)
(30/04/2017) - Espanyol vs Barcelona (3 poin)
(07/05/2017) - Barcelona vs Villarreal (0 poin)
(14/05/2017) - Las Palmas vs Barcelona (3 poin)
(21/05/2017) - Barcelona vs Eibar (3 poin)

Peluang Juventus Menjuarai Liga Champions


http://www.terbaruz.com/2017/05/peluang-juventus-menjuarai-liga.html
Peluang Juventus Menjuarai Liga Champions

TERBARUZ.COM - Pelatih Juventus, Massimiliano Allegri, sangat  berharap besar kepada timnya untuk mengakhiri musim 2016-2017 dengan meraih gelar juara Liga Champions.

"Semoga ini adalah tahun yang tepat untuk jadi juara," kata Allegri kepada Football Italia selepas laga kontra AS Monaco, Selasa (9/5/2017) atau Rabu dini hari WIB.

Si Nyonya Tua semakin dekat ke trofi Si Kuping Besar. Tim asuhan Massimiliano Allegri lolos ke partai puncak  Liga Champions setelah membungkam AS Monaco 2-1 pada semifinal leg kedua di Juventus Stadium.

Kemenangan Juventus terjadi berkat sumbangan gol Mario Mandzukic pada menit ke-33 dan Dani Alves (45'). Monaco cuma sanggup membalas sekali via Kylian Mbappe (69').

http://www.terbaruz.com/2017/05/peluang-juventus-menjuarai-liga.html
Peluang Juventus Menjuarai Liga Champions
Juventus pun berhak melenggang dengan mengantongi agregat 4-1. Kini, mereka tinggal menunggu lawan di final.

Satu slot terakhir di final akan diperebutkan oleh Real Madrid dan Atletico Madrid. Duel dua wakil Spanyol itu bakal berlangsung pada Rabu (10/5/2017).

"Saya pikir Juventus memiliki peluang yang sangat bagus untuk memenangi Liga Champions," ucap sang pelatih.

Selama terlibat dalam kompetisi tertinggi antar klub Eropa, Juventus tercatat sudah dua kali bertemu klub asal Spanyol di final. Semua berujung kekalahan buat Juventus  si "La Vecchia Signora".

Juventus tumbang 0-1 dari Madrid pada laga puncak 1997–1998. Dalam kurun waktu 17 musim kemudian, tepatnya di musim 2014–2015, mereka pun kembali gagal untuk menjadi juara akibat dikalahkan Barcelona dengan skor 1-3.

Striker Muda Yang Mendadak Cemerlang Musim Ini

Para pemain muda yang menjanjikan dan cemerlang dalam memainkan si kulit bundar seakan tidak akan pernah habis dalam dunia sepakbola. Mereka pun selalu bermunculan dengan bakat talenta yang luar biasa dan siap menggantikan para pemain hebat yang ada sekarang ini.

Musim ini cukup banyak pemain muda terutama yang berposisi sebagai penyerang atau striker yang menampilkan performa luar biasa. Mereka tentu saja diharapkan bisa  menjadi bintang besar selanjutnya dalam kurun waktu yang tidak lama lagi.

Berikut ini  adalah nama-nama striker muda yang tampil impresif dan cemerlang di depan gawang musim ini 

Timo Werner 

http://www.terbaruz.com/2017/05/striker-muda-yang-mendadak-cemerlang.html
Striker Muda Yang Mendadak Cemerlang Musim Ini
 
RB Leipzig sudah membuat sensasi besar pada musim ini. Tim yang baru pertama kali promosi ke Bundesliga itu mampu menembus Liga Champions dan menjadi penantang serius dalam perburuan gelar liga dengan Bayern Munchen.

Salah satu pemain di skuat yang penampilannya cukup bersinar adalah penyerang muda Jerman Timo Werner. Penyerang berusia 21 tahun yang baru saja pindah dari Stuttgart itu mampu membuktikan diri sebagai striker utama Leipzig dengan mencetak banyak gol.

Setelah mencetak 21 gol dan mengemas tujuh assist dalam 31 pertandingan di Bundesliga, Werner kini sering dibicarakan sebagai penyerang masa depan Jerman.Jika terus tampil tajam, tidak ada alasan Werner kesulitan menambah capsnya untuk Jerman yang tercatat baru satu kali.

Sandro Ramirez

http://www.terbaruz.com/2017/05/striker-muda-yang-mendadak-cemerlang.html
Striker Muda Yang Mendadak Cemerlang Musim Ini
 
Mantan pemain Barcelona ini menjalani musim yang cemerlang setelah pindah ke Malaga pada awal musim. Meski bertalenta, Sandro kesulitan menembus persaigan di tim utama Barca sehingga ia hanya membuat 32 penampilan di tim senior.

Setelah bergabung dengan Malaga, tidak butuh waktu lama bagi sang pemain untuk menunjukkan kualitasnya. Tidak hanya mendapat kesempatan bermain reguler, Sandro menjadi andalan di lini depan di klub barunya dan menjelma menjadi salah satu striker menakutkan di Spanyol.

Meski Malaga sedang kesulitan karena hanya mampu menghuni peringkat 11, Sandro sudah memberikan kontribusi yang sangat positif. Dia sudah mencetak 14 gol dan mengemas dua assist untuk membantu timnya bersaing di papan tengah.

Kylian Mbappe

http://www.terbaruz.com/2017/05/striker-muda-yang-mendadak-cemerlang.html
Striker Muda Yang Mendadak Cemerlang Musim Ini
 
Jika ada pemain muda yang membuat dampak yang besar dalam dunia sepakbola saat ini maka dia adalah wonderkid AS Monaco Kylian Mbappe. Pemain berusia 18 tahun itu membuat debutnya pada musim lalu dan penampilannya saat ini menuai pujian besar.

Mbappe meneror pertahanan lawan dengan kemampuannya dan tidak sedikit yang menyebutnya sebagai penerus Thierry Henry. Sang pemain sudah mencetak 25 gol dan mengemas 14 assist di semua ajang kompetisi dan hal itu membuktikan betapa berbahayanya Mbappe di depan gawang lawan.

Kemunculan Mbappe sangat fenomenal dan ia diyakini bakal menjadi bintang besar selanjutnya. Nama Mbappe sudah menjadi bahan spekulasi di lantai bursa dan ia tentu saja tidak akan meninggalkan Monaco dengan harga yang murah.

Andrea Belotti 

http://www.terbaruz.com/2017/05/striker-muda-yang-mendadak-cemerlang.html
Striker Muda Yang Mendadak Cemerlang Musim Ini

Salah satu masalah utama yang menghantui tim nasional Italia adalah mereka tidak punya striker kelas dunia di dalam skuat. Meski pemain seperti Graziano Pelle dan Mario Balotelli masih dianggap cukup bagus untuk membela Azzurri tapi kekurangan striker yang menakutkan ternyata cukup mengganggu. Namun, kemunculan Andrea Belotti belakangan ini seakan menjadi jawaban.

Pemain nomor sembilan Torino ini tampil cukup fenomenal sepanjang musim ini dan meskipun timnya tidak terlalu bagus di tabel klasemen Serie A. Dengan koleksi 27 gol dan enam assist di semua ajang kompetisi, mantan pemain Palermo tersebut merupakan pemain penting bagi pelatih Sinisa Mihajlovic.

Dengan ketajaman yang ditunjukkannya, Belotti sudah menjadi bintang di Serie A pada musim keduanya bersama klub Turin dan sekarang sedang diincar oleh banyak klub besar Eropa.

Paulo Dybala 

http://www.terbaruz.com/2017/05/striker-muda-yang-mendadak-cemerlang.html
Striker Muda Yang Mendadak Cemerlang Musim Ini
 
Paulo Dybala sudah sejak lama dianggap sebagai penerus Lionel Messi. Dyabala bahkan sudah menunjukkan kehebatannya mencetak gol di Italia saat memperkuat Palermo. Meski musim lalu mampu mencetak 23 gol, tapi justru penampilannya di musim ini yang mendapatkan banyak sorotan.

Dybala sekarang masih berada di belakang rekan senegaranya Gonzalo Higuain dalam urusan mencetak gol di Juventus. Namun, hal itu tidak menghentikannya untuk menjadi salah satu penyerang menakutkan di pentas domestik maupun Eropa. Dua gol Dybala ke gawang Barcelona dalam ajang Liga Champions kemarin seakan berhasil mengungguli kecemerlangan Messi.

Dybala hanya membutuhkan waktu dan  tinggal selangkah lagi mengantarkan Juventus memenangkan treble pada musim ini. Setelah berhasil menaklukkan Italia, Dybala mungkin harus pindah ke liga yang lain untuk menambah reputasinya sebagai salah satu penyerang terbaik di dunia sepakbola.

Antonio Conte Siap Depak Pemain Chelsea


http://www.terbaruz.com/2017/05/antonio-conte-siap-depak-pemain-chelsea.html
Antonio Conte Siap Depak Pemain Chelsea

Antonio Conte telah mengungkapkan siap untuk melepas para pemain Chelsea yang tak berkontribusi dengan baik. pemain yang berkontribusi dengan baik sangat penting karena Chelsea akan menghadapi musim depan yang sangat sulit.

Chelsea pun telah memastikan diri sebagai juara Premier League musim ini. Prestasi ini tentu saja tak lepas dari penampilan bagus sejumlah pemainnya.

Menyusul musim yang mengesankan, sejumlah pemain Chelsea mulai dikaitkan dengan tim lain termasuk Eden Hazard dan Thibaut Courtois. Diego Costa dan Cesc Fabregas juga disebut menjadi incaran klub lain.

Hazard dan Courtois menjadi incaran Real Madrid menyambut bursa transfer musim panas mendatang. Untuk mencegah kehilangan Hazard, Chelsea dikabarkan siap memberikan gaji senilai 300 ribu per pekan.

Sementara itu, Costa masih dikaitkan dengan klub Tiongkok Tianjin Quanjian. Sementara itu Fabregas dikatakan menjadi incaran AC Milan.

Musim depan Chelsea memang membutuhkan pemain lebih banyak karena akan menjalani kompetisi lebih banyak, di antaranya Liga Champions. Namun demikian, Conte tak segan melepas pemainnya yang tak merasa nyaman dalam skuatnya.

"Pemain harus merasa bahagia di Chelsea. Hal ini sangat penting. Bagi saya ini sangat penting, bahwa setiap pemain yang ingin bertahan di Chelsea harus bahagia berada di Chelsea," ucap Conte seperti dikutip Soccerway.

"Musim depan kami harus banyak melakukan perbaikan dan memiliki skuat lebih besar, ini bukan pendapat saya sendiri. Ini adalah pendapat keseluruhan."

"Musim depan kami akan bermain di Liga Champions lagi dan kami akan mengawali musim sebagai juara, pastinya akan menjadi musim yang sulit. Tapi jika kami bekerja dengan bena, kami akan siap menghadapi semuanya," jelas pelatih asal Italia tersebut.

Antonio Conte mungkin sangat menyadari tak ingin mengulangi kesalahan-kesalahan Chelsea seperti musim lalu. Seperti diketahui, Chelsea yang sukses menyabet gelar juara pada musim 2014/2015, penampilan dan permainannya pun langsung turun drastis pada musim berikutnya sehingga finis di peringkat 10 musim lalu yang diwarnai dengan pemecatan pelatih.

Ungkapan Janjin Dybala Untuk Juventus Di Liga Champions


http://www.terbaruz.com/2017/05/ungkapan-janjin-dybala-untuk-juventus.html
Ungkapan Janjin Dybala Untuk Juventus Di Liga Champions

Paulo Dybala menjelaskan tentang janji yang dia buat kepada rekan setimnya di Juventus untuk tampil di Liga Champions dan juga kompetisi tendangan bebas dengan Alessandro Del Piero.

Striker asal Argentina ini diboyong oleh Il Bianconeri pada bursa transfer musim panas tahun 2015 lalu ketika Juve baru saja kandas dari Barcelona di final Liga Champions tahun itu dengan skor 3-1.

Namun nyatanya kini mereka berhasil menembus final lagi dan ternyata Dybala sudah pernah membuat sebuah janji dengan Claudio Marchisio.

"Pertama kali saya bertemu dengan rekan-rekan setim di Juve adalah ketika mereka mengundang saya untuk menghadiri final Liga Champions melawan Barcelona di Berlin," ujar La Joya dalam wawancaranya untuk Sky Sport Italia.

"Saya kembali ke Italia berada dalam satu pesawat dengan mereka dan saat itulah saya berkesempatan menemui sebagian besar para pemain. Mereka menyambut saya dengan hangat dan khususnya Marchisio, dia berkata bahwa kami harus bangkit di lapangan dan kembali tampil di final."

"Saya selalu mengingat kata-kata itu dan kini hal tersebut benar-benar terjadi lagi. Saya harap hasilnya akan berbeda."

Kali ini Juventus akan menghadapi Real Madrid di Millenium Stadium, Cardiff, pada tanggal 3 Juni mendatang dan satu janji Dybala lainnya adalah melakukan kompetisi tendangan bebas dengan striker legendaris Juve, Alessandro Del Piero, yang diwasiti oleh Gianluigi Buffon di bawah mistar gawang.

"Kami sudah berbicara soal itu dan menyadari itu, beruntungnya kami harus menunggu setelah tanggal 3 Juni. Sangatlah baik bisa bekerja sama dengan Gigi pada acara ini."

Juventus Rebut Juara Coppa Italia yang Ke-12


http://www.terbaruz.com/2017/05/juventus-rebut-juara-coppa-italia-yang.html
Juventus Rebut Juara  Coppa Italia yang Ke-12




TERBARUZ.COM - Tak salah jika Juventus disebut sebagai ratunya Coppa Italia. Selain memegang rekor titel terbanyak, Juventus juga baru saja  menjadi tim pertama sepanjang sejarah yang mampu tiga musim beruntun menjuarainya.

Juventus meraih gelar ke-12 di ajang Coppa Italia atau Piala Italia. Gelar terbaru direbut ketika klub berjulukan Si Nyonya Besar itu menang 2-0 atas Lazio di Stadion Olimpico, Rabu (17/5/2017) atau Kamis dini hari WIB.

Dua gol kemenangan Juventus ke gawang Lazio diciptakan oleh Daniel Alves (menit ke-12) dan Leonardo Bonucci (25'). Seluruhnya tercipta dengan memanfaatkan umpan pemain sayap Alex Sandro.
Kemenangan di partai puncak kali ini membuat Juventus mempertahankan gelar Coppa Italia yang mereka raih selama tiga musim beruntun.

Bianconeri pun mempertajam rekor mereka soal raihan gelar terbanyak ajang ini dengan jumlah total 12 trofi.
Pada pertandingan final Coppa Italia 2016-2017, kedua tim fasih mengandalkan serangan kilat tajam. Lazio sebenarnya lebih dulu memperoleh peluang emas melalui skenario tersebut.
Mereka nyaris mencetak gol saat laga berusia lima menit. Hanya, bola sepakan Keita Balde memantul ke tiang kanan gawang Juve yang dikawal kiper pelapis Gianluigi Buffon, Norberto Neto.

Setelahnya, Juventus rutin mengendalikan permainan. Mereka mengukir gol perdana lewat kerja sama pemain Brasil. Alex Sandro melepas umpan lambung brilian dari sisi kiri.
Baca: Mengungkap Kepribadian Cewek dari Ukuran Rambut, Nomor 4 Penuh Impian
Dani Alves menyambutnya dengan tendangan langsung dari dalam kotak penalti setelah lolos menyelinap dari perhatian dua pemain Lazio, Senad Lulic dan Wallace.

Berselang 13 menit, jala gawang Lazio bergetar lagi. Bonucci membelokkan bola hasil sepak pojok Paulo Dybala yang dibantu dorongan kepala Alex Sandro.

Memasuki babak kedua, Lazio melakoni start bagus. Pemain pengganti, Felipe Anderson, mengancam lewat tembakan yang diblok keluar oleh tangan kanan Neto (54').

Tak lama, kiper Brasil berusia 27 tahun itu kembali menggagalkan sundulan jarak dekat Immobile secara gemilang saat bola nyaris melewati garis gawang (57').

Alur pertandingan dalam setengah jam terakhir semakin sengit karena Lazio lebih aktif melancarkan serangan.

Hanya, pasukan Simone Inzaghi membuang banyak peluang lewat tembakan yang diselamatkan Neto ataupun meleset dari target. Alhasil, angka di papan skor tak berubah.

Juventus mempertahankan keunggulan dua gol tanpa balas. Titel Coppa musim ini menjadi awalan bagus Bianconeri guna merealisasikan misi meraih treble atau tiga gelar sekaligus.

Juve berpeluang besar memastikan titel Serie A pada akhir pekan ini dan melanjutkannya ke partai final Liga Champions kontra Real Madrid (3/6/2017). (Beri Bagja)

Juventus 2-0 Lazio (Dani Alves 12', Leonardo Bonucci 25')

Juventus (3-4-2-1): 25-Neto; 15-Andrea Barzagli, 19-Leonardo Bonucci, 3-Giorgio Chiellini; 23-Dani Alves, 8-Claudio Marchisio, 28-Tomas Rincon, 12-Alex Sandro; 21-Paulo Dybala (18-Mario Lemina 78'), 17-Mario Mandzukic; 9-Gonzalo Higuain.
Pelatih: Massimiliano Allegri

Lazio (3-5-2): 1-Thomas Strakosha; 15-Bastos (10-Felipe Anderson 53'), 3-Stefan de Vrij (18-Luis Alberto 69'), 13-Wallace; 8-Dusan Basta, 16-Marco Parolo (26-Stefan Radu 21'), 20-Lucas Biglia, 21-Sergej Milinkovic-Savic, 19-Senad Lulic; 17-Ciro Immobile, 14-Keita Balde Diao.
Pelatih: Simone Inzaghi

Daftar pemenang Coppa Italia:

  1. Juventus - 12 gelar (1938, 1942, 1959, 1960, 1965, 1979, 1983, 1990, 1995, 2015, 2016, 2017)
  2. AS Roma - 9 (1964, 1969, 1980, 1981, 1984, 1986, 1991, 2007, 2008)
  3. Inter Milan - 7 (1939, 1978, 1982, 2005, 2006, 2010, 2011)
  4. Fiorentina - 6 (1940, 1961, 1966, 1975, 1996, 2001)
  5. Lazio - 6 (1958, 1998, 2000, 2004, 2009, 2013)
  6. Torino - 5 (1958, 1998, 2000, 2004, 2009, 2013)
  7. AC Milan - 5 (1967, 1972, 1973, 1977, 2003)
  8. Napoli - 5 (1962, 1976, 1987, 2012, 2014)
  9. Sampdoria - 4 (1985, 1988, 1989, 1994)
  10. Parma - 3 (1992, 1999, 2002)
  11. Bologna - 2 (1970, 1974)
  12. Vicenza - 1 (1997)
  13. Atalanta - 1 (1963)
  14. Venezia - 1 (1941)
  15. Genoa - 1 (1937)
  16. Vado - 1 (1922)

Juventus berpeluang meraih treble musim ini. Gelar pertama sudah diamankan dari pentas Coppa Italia, tinggal mengunci Scudetto Serie A dan melakoni final Liga Champions melawan juara bertahan Real Madrid di Cardiff.

Kutukan Final Liga Champions

http://www.terbaruz.com/2017/05/kutukan-final-liga-champions.html
Kutukan Final Liga Champions

Liga Champions telah  berganti format pada musim 1992-1993, Semenjak itu lah tidak pernah ada tim yang mampu juara dua musim secara beruntun. Real Madrid selaku kampiun Liga Champions 2015-2016 secara luar biasa kembali menembus partai puncak di edisi musim ini, 2016-2017.

Di partai puncak Los Blancos julukan Madrid ditantang Juventus, klub yang terakhir kali memenangi trofi Liga Champions pada 1995-1996. Tercatat, Real Madrid sebagai klub kelima yang lolos ke final dengan status juara bertahan.

Sebanyak empat klub sebelumnya selalu kalah di percobaan kedua mereka. Lantas, siapa saja empat klub tersebut? AC Milan menjadi klub pertama yang mencoba mempertahankan trofi Si Kuping Besar.

Pada 1993-1994, Rossoneri julukan Milan menjadi kampiun setelah di final mengalahkan Barcelona dengan skor 4-0. Secara luar biasa, Milan kembali menapaki partai puncak satu musim kemudian (1994-1995).

Namun, kali ini Milan harus bertekuk lutut dari Ajax Amsterdam dengan skor 0-1 lewat gol tunggal Patrick Kluivert. Setelah mengalahkan Milan, Ajax Amsterdam tampil luar biasa di Liga Champions edisi 1995-1996.

Bermodalkan pemain-pemain muda macam Edwin van der Sar, Clarence Seedorf dan Edgar Davids, Ajax Amsterdam asuhan Louis van Gaal kembali menapaki partai puncak. Namun, Ajax harus takluk dari Juventus setelah kalah via adu penalti dengan skor 2-4. Sebelumnya di waktu normal, skor sama kuat 1-1.

Sukses menjadi kampiun di musim 1995-1996 meningkatkan motivasi Juventus saat tampil di Liga Champions 1996-1997. Terbukti Zinedine Zidane dan kawan-kawan sukses melaju hingga final.

Akan tetapi, langkah Juventus untuk mengangkat La Orejana (Si Kuping Besar) dihentikan wakil Jerman, Borussia Dortmund. Dalam laga yang dilangsungkan di Olympia Stadion Munich, Dortmund menang 3-1.

Sementara itu, klub keempat yang mencoba peruntungan mempertahankan gelar ialah Manchester United. Pada musim 2007-2008. The Red Devils menjadi juara setelah mengalahkan Chelsea lewat adu penalti dengan skor 6-5 (di waktu normal imbang 1-1).

Semusim berselang (2008-2009), Man United kembali ke final dan berjumpa lawan yang mereka kalahkan di semifinal 2007-2008, Barcelona. Sempat dominan di awal laga, Manchester United justru takluk 0-2 dan harus merelakan trofi Liga Champions mereka diambil alih oleh Barcelona.

Seperti yang sudah dijelaskan di atas, Real Madrid adalah klub kelima yang akan mencoba mempertahankan gelar juara Liga Champios. Sanggupkah Real Madrid menghentikan kutukan tersebut? Layak ditunggu.



Chelsea Juara Liga Inggris Musim 2016-2017


http://www.terbaruz.com/2017/05/chelsea-juara-liga-inggris-musim-2016.html
Chelsea Juara Liga Inggris Musim 2016-2017




Klub sepakbola asuhan Antonio Conte telah memastikan menyabet titel juara Liga Inggris musim 2016-2017, setelah menang 1-0 atas West Bromwich Albion pada pertandingan Liga Inggris, di Stadion The Hawthorns, Sabtu (13/5/2017) dini hari WIB.

Kemenangan ini membuat The Blues mengemas 87 poin dari 36 laga di klasemen sementara. Jumlah poin itu secara matematis mustahil dikejar Tottenham Hotspur di urutan kedua dengan 77 angka dari 35 pertandingan. Di sisi lain, hasil negatif membuat West Bromwich Albion tetap menghuni peringkat kedelapan dengan 45 poin.

Chelsea langsung tampil menyerang sejak pertandingan bergulir. Mereka mendapat peluang emas mencetak gol melalui Pedro Rodriguez pada menit ke-14. Sayangnya, bola hasil sepakan pemain Spanyol itu belum menemui sasaran.

Sepanjang 45 menit babak pertama, Chelsea terus melancarkan serangan secara sporadis. Namun, berbagai peluang yang mereka dapat tidak membuahkan hasil positif. Skor kacamata pun tetap bertahan hingga turun minum.

Memasuki babak kedua, Chelsea menggempur pertahanan West Bromwich Albion untuk bisa mengubah kedudukan. Victor Moses nyaris membuat timnya unggul pada menit ke-54, jika bola hasil tendangannya gagal diantisipasi Ben Foster.

Chelsea terus berupaya untuk bisa mencetak gol dengan terus menekan West Bromwich Albiob. Akan tetapi, rapatnya barisan pertahanan tim tuan rumah membuat tidak ada gol yang tercipta hingga menit ke-78.

Akan tetapi, semangat juang Chelsea akhirnya berbuah manis pada menit ke-82. The Blues berhasil memecah kebuntuan setelah Michy Batshuayi melepaskan tembakan yang bolanya gagal diantisipasi Ben Foster. Alhasil, skor 1-0 untuk kemenangan Chelsea bertahan hingga laga berakhir.

Susunan pemain:

West Bromwich Albion: 1-Ben Foster; 23-Gareth McAuley (12-Marc Wilson 64'), 6-Jonathan Evans, 2-Allan Nyom, 25-Craig Dawson; 24-Darren Fletcher; 11-Chris Brunt, 8-Jake Livermore, 14-James McClean (22-Nacer Chadli 59'), 47-Sam Field (5-Claudio Yacob 51'); 9-Salomon Rondón

Manajer: Tony Pulis

Chelsea: 13-Thibaut Courtois; 24-Gary Cahill, 30-David Luiz, 28-Cesar Azpilicueta; 3-Marcos Alonso, 4-Cesc Fàbregas, 15-Victor Moses (5-Kurt Zouma 86'), 21-Nemanja Matić; 10-Eden Hazard (22-Willian 75'), 11-Pedro Rodriguez (23-Michy Batshuayi 76'); 19-Diego Costa

Manajer: Antonio Conte

Wasit: Martin Oliver

Sami Khedira Akan Tinggalkan Juventus


http://www.terbaruz.com/2017/05/sami-khedira-akan-tinggalkan-juventus.html
Sami Khedira Akan Tinggalkan Juventus
Pemain gelandang tengah Juventus Sami Khedira terpaksa absen membela Juventus saat melawan Lazio pada final Coppa Italia, Kamis 18 Mei 2017 dinihari WIB.

Pelatih Juventus Massimiliano Allegri melakukan skenario ini agar gelandang asal Jerman tersebut bisa pulih tepat waktu saat berhadapan dengan mantan klubnya Real Madrid di Liga Champions 2016/2017.

Khedira mengalami cedera otot saat menjalani leg kedua semifinal Liga Champions. Awalnya dia bersikeras bahwa cedera yang dialaminya tidak serius.

Tapi Massimiliano Allegri bagaimanapun mengatakan bahwa gelandang tersebut akan dikesampingkan untuk pertandingan itu.

Bahkan menurut laporan, Khedira juga akan melewatkan dua pertandingan Serie A berikutnya melawan Roma dan Crotone.

Dia juga meragukan permainan liga terakhir musim ini melawan Bologna. Tapi pelatih belum bisa memastikan apakah Khedira bakal tampil di final Liga Champions melawan Madrid di Cardiff pada 3 Juni atau tidak.

Khedira telah mencetak tujuh gol dari 44 penampilan di semua kompetisi untuk Juve musim ini. Dia merupakan pemain kedua Allegri yang paling banyak diturunkan setelah Gonzalo Higuaín.

Gawang Juventus Baru Kebobolan 3 Gol di Kompetisi Liga Champions 2017


http://www.terbaruz.com/2017/05/gawang-juventus-baru-kebobolan-3-gol-di.html
Gawang Juventus Baru Kebobolan 3 Gol di Kompetisi Liga Champions 2017
Pada tanggal 3 Juni 2017 mendatang Juventus akan menghadapi juara bertahan Real Madrid di final Liga Champions 2016/17. Juventus cukup diunggulkan di bandingkan Real Madrid, salah satunya adalah karena mereka memiliki lini pertahanan yang sangat kuat.

Di Liga Champions musim ini, Gianluigi Buffon dan kawan-kawan baru kebobolan tiga gol. Sementara itu, dalam perjalanan menuju partai puncak di Cardiff, pasukan Zinedine Zidane sudah kebobolan 17 gol.

Real Madrid kebobolan 14 gol lebih banyak daripada La Vecchia Signora. Ini merupakan sebuah statistik yang cukup menarik perhatian.

Juventus di Liga Champions 2016/17:
 
Juventus 0-0 Sevilla (kiper Gianluigi Buffon)
Dinamo Zagreb 0-4 Juventus (kiper Gianluigi Buffon)
Lyon 0-1 Juventus (kiper Gianluigi Buffon)
Juventus 1-1 Lyon (kiper Gianluigi Buffon)
Sevilla 1-3 Juventus (kiper Gianluigi Buffon)
Juventus 2-0 Dinamo Zagreb (kiper Neto)
Porto 0-2 Juventus (kiper Gianluigi Buffon)
Juventus 1-0 Porto (kiper Gianluigi Buffon)
Juventus 3-0 Barcelona (kiper Gianluigi Buffon)
Barcelona 0-0 Juventus (kiper Gianluigi Buffon)
Monaco 0-2 Juventus (kiper Gianluigi Buffon)
Juventus 2-1 Monaco (kiper Gianluigi Buffon).


Real Madrid di Liga Champions 2016/17:
 
Madrid 2-1 Sporting (kiper Kiko Casilla)
Dortmund 2-2 Madrid (kiper Keylor Navas)
Madrid 5-1 Legia (kiper Keylor Navas)
Legia 3-3 Madrid (kiper Keylor Navas)
Sporting 1-2 Madrid (kiper Keylor Navas)
Madrid 2-2 Dortmund (kiper Keylor Navas)
Madrid 3-1 Napoli (kiper Keylor Navas)
Napoli 1-3 Madrid (kiper Keylor Navas)
Bayern 1-2 Madrid (kiper Keylor Navas)
Madrid 4-2 Bayern (kiper Keylor Navas)
Madrid 3-0 Atletico (kiper Keylor Navas)
Atletico 2-1 Madrid (kiper Keylor Navas).


Pertahanan Madrid tidak sekuat pertahanan Juventus. Namun, lini ofensif Real Madrid lebih produktif dari pada milik Juventus.

Sejauh ini, Real Madrid telah mencetak 32 gol, terbanyak dibandingkan tim-tim lain di Liga Champions 2016/17. Mereka mencetak 11 gol lebih banyak daripada Juventus, yang menyarangkan 21 gol dari fase grup hingga semifinal leg kedua.

Juventus dan Real Madrid sama-sama memiliki keunggulan. Final di Millennium Stadium, Cardiff, Wales, 3 Juni 2017 mendatang, Laga Final Liga Champions tersebut  bakal menjadi sebuah final yang sangat brilian.

Tottenham Beat Manchester United


http://www.terbaruz.com/2017/05/tottenham-beat-manchester-united.html
Tottenham Beat Manchester United
As farewells, it was precisely the kind of send-off that Tottenham Hotspur must have craved bar that one small, annoying detail about Chelsea’s position squatting defiantly at the top of the Premier League. The title is gone now and the same will soon apply to White Hart Lane, 1899 to 2017, but it was some way to go and one final happy memory from the stadium that gave us The Game Is About Glory.

Unfortunately for Spurs, it did not turn out to be the glory they wanted during those thrilling weeks when Mauricio Pochettino’s team were threatening to catch and overhaul Chelsea. This is, however, their first second-place finish – and the only time they have gone an entire season without losing at home – since Bill Nicholson was manager in the 1960s. A small thing, perhaps, but the people who cherish this old stadium should embrace the fact it has reached its endgame with the best statistics of any ground in the country.

That, of course, told only part of the story on a day when the acoustics inside White Hart Lane have rarely sounded so good. The volume was turned high as the Spurs fans fluttered their flags and serenaded their former heroes and it would all have felt terribly out of place if the current side had not risen to the occasion. Pochettino’s team ensured there was no sense anti-climax. Yes, it was a melancholic day for the supporters who have headed down Seven Sisters Road all those years but, hell, those people made some noise turning it into a celebration. Spurs are on their way to Wembley, as the old song goes, and when Chas and Dave made a guest appearance at half-time they did make the point that the new stadium will actually be slightly closer to White Hart Lane when it opens for business in August 2018.

More than anything, it was a victory that felt fitting for this kind of occasion. Spurs inflicted the damage with early goals in each half, courtesy of Victor Wanyama and Harry Kane, and came through an awkward period after Wayne Rooney’s goal had given Manchester United 20 minutes to save themselves. In a different era, the team from Old Trafford once came back from 3-0 down here to win 5-3 and create their own piece of White Hart Lane history. Sixteen years on, the modern-day team does not have the same kind of precious magic. This scoreline flattered Jose Mourinho’s side and the ramifications come in the form of what it means for the league table.

This will be the first time United have finished outside the top three in four consecutive seasons for 30 years. They have gone even longer, back to the early-1970s, since they have trailed Manchester City four years running. Mourinho’s talk of going for the title feels a faint memory when they are 22 points off the top and it almost came as a shock when Rooney turned in Anthony Martial’s pass to change the complexion of the second half. United have failed to score in all their other away games against the teams above them in the top six. It was the same when they played at Chelsea in the FA Cup but they did at least make it a nervous finale for Spurs.

By that stage Mourinho had decided to abandon the tactic of using Axel Tuanzebe, a centre-half by trade, in a man-marking role on Christian Eriksen. Tuanzebe chased his man all over the pitch but the problem for the 20-year-old, starting only his second top-division fixture, was he could not mark Eriksen at corners and free-kicks – and United’s centre-halves, Chris Smalling and Phil Jones, both looked vulnerable.

After five minutes, Eriksen had the chance to swing over a corner from the left. He played it short, rolling the ball back to Ben Davies and United’s marking was generous, to say the least, when Tottenham’s left-back clipped his cross into the middle. Wanyama was unchallenged in the space between Rooney and Phil Jones and directed his header beyond David de Gea.

Eriksen was also involved when Spurs doubled their lead three minutes into the second half, this time whipping a free-kick into the six-yard area at just the height and speed that goalkeepers dread. Eric Dier could not reach the cross but Kane jutted out his leg. Smalling was slow to react and De Gea was beaten for a second time.

By that stage Spurs would have been in a far more comfortable position but for De Gea’s brilliant goalkeeping and a succession of first-half saves. Kane struck the crossbar with a close-range header and for long spells there was the clear suspicion that United were simply going through the motions, with the Europa League final uppermost in Mourinho’s thoughts.

That impression did change slightly once Anthony Martial had turned past Kieran Trippier to set up Rooney’s goal – a poor moment for the Spurs right-back on a day when he kept Kyle Walker out of the team – and the substitute Marcus Rashford might have changed the mood in stoppage time. It would have been unwarranted, however, and game number 2533 at White Hart Lane had its happy ending.


Data Statistik Final Liga Champions 2016/17 Juventus vs Real Madrid


http://www.terbaruz.com/2017/05/data-statistik-final-liga-champions.html
Data Statistik Final Liga Champions 2016/17 Juventus vs Real Madrid 


Juventus dan Real Madrid akan saling jegal dalam laga final Liga Champions 2016-2017, pertandingan final Liga Champions 2016/17 akan di selenggarakan di Stadion Millenium, Cardiff, 3 Mei 2017. Pertandingan antara Juventus dan Real Madrid akan menjadi partai ulangan final Liga Champions di tahun 1998 yang membuat Los Blancos meraih gelar ketujuh turnamen tersebut.


Real Madrid melangkah ke final setelah menyingkirkan Atletico Madrid dengan agregat 4-2. Meski kalah 1-2 pada laga leg kedua, Real Madrid mengunci satu tempat pada partai puncak karena keunggulan 3-0 saat bertanding dalam pertandingan leg pertama, di Santiago Bernabeu.

Juventus juga lolos dengan menyakinkan. Skuat asuhan Massimiliano Allegri menang agregat 4-1. Juventus menang dua gol tanpa balas di Stade Louis II, sedangkan pada laga leg kedua, mereka menang 2-1.

Bagi Juventus, pertandingan ini akan menjadi kesempatan besar mengulang prestasi mereka di Eropa. Sementara itu, Real Madrid akan mengincar sejarah baru dengan meraih gelar ke-12.

Berikut ini adalah beberapa statistik Liga Champions 2016-2017 yang sebagian besar didominasi para pemain dari kedua kesebelasan tersebut.

Top Scorer

http://www.terbaruz.com/2017/05/data-statistik-final-liga-champions.html
Data Statistik Final Liga Champions 2016/17 Juventus vs Real Madrid 


Pada partai final, bintang Real Madrid, Cristano Ronaldo berpeluang besar menyamai atau melewati catatan penyerang Barcelona, Lionel Messi, yang saat ini bertengger di posisi pertama pencetak gol terbanyak.


Lionel Messi telah mengoleksi 11 gol, sedangkan Cristiano Ronaldo menyarangkan 10 gol. Sementara itu, bomber Juventus, Gonzalo Higuain, berada di peringkat keenam dengan total lima gol.

Tembakan dan Assist

http://www.terbaruz.com/2017/05/data-statistik-final-liga-champions.html
Data Statistik Final Liga Champions 2016/17 Juventus vs Real Madrid


Tembakan akurat


Dua penyerang Real Madrid, Cristiano Ronaldo dan Karim Benzema berada di 10 besar pemain yang paling banyak melakukan tembakan ke gawang pada Liga Champions 2016-2017. Cristiano Ronaldo tercatat melakukan 25 tembakan ke gawang, sementara Karim Benzema 17 kali.

Sriker Juventus, Gonzalo Higuain, menempati peringkat ketiga dengan melakukan 17 kali shot on goal. Dengan catatan tersebut, wajar jika Real Madrid dan Juventus dianggap sebagai salah satu klub yang paling sering melakukan tekanan ke gawang lawan pada musim ini.

Assist terbanyak

Bintang Barcelona, Neymar, masih tercatat sebagai pemberi assist terbanyak di ajang Liga Champions 2016-2017. Sementara itu, Cristiano Ronaldo berada di peringkat kedua dengan enam torehan, diikuti Dani Alves dan Miralem Pjanic yang masing-masing menciptakan tiga assist.

Pelanggaran dan Daya Jelajah

http://www.terbaruz.com/2017/05/data-statistik-final-liga-champions.html
Data Statistik Final Liga Champions 2016/17 Juventus vs Real Madrid 

Pelanggaran

Bintang Barcelona, Neymar, menjadi pemain yang paling dilanggar pada Liga Champions 2016-2017 (32 kali). Peringkat kedua ditempati gelandang Juventus, Paulo Dybala, tercatat telah 28 kali menjadi sasaran para pemain tim lawan. 

Sementara itu, bek Juventus, Dani Alves, telah melakukan 20 kali pelanggaran, sedangkan gelandang Real Madrid, Casemiro, menjadi pemain paling "kotor" di skuat Real Madrid setelah mencatat 16 kali pelanggaran. 

Daya Jelajah

Para pemain Atletico Madrid mendominasi statistik dalam hal daya jelajah di dalam lapangan. Ketiga pemain Atletico Madrid, Koke, Antoine Griezmann, dan Gabi, tercatat sebagai pemain yang memiliki daya jelajah tinggi. Dua pemain Real Madrid, Cristiano Ronaldo dan Toni Kross berada di peringkat kelima dan ketujuh. 






Juventus Enam Kali Berturut-turut Menjuarai Liga Italia Serie A


http://www.terbaruz.com/2017/05/juventus-enam-kali-berturut-turut.html
Juventus Enam Kali Berturut-turut Menjuarai Liga Italia Serie A

Cukup selangkah lagi Juventus untuk bisa menambahkan superior mereka dalam perjalanan panjang sejarah sepak bola Italia. Meskipun itu juga berarti menambah jemu gelaran Liga Italia setiap tahunnya dengan sosok juara yang itu-itu saja.

Hanya butuh satu kemenangan di tiga laga tersisa Liga Italia musim ini untuk Bianconeri memastikan diri memperoleh scu­detto. Satu kemenangan, di atas hitungan matematika, mestinya tak terlalu sulit diperoleh Juventus .

Di tiga laga tersisa, Juventus bahkan berpeluang mengunci gelar juara di kandang AS Roma, Senin 15 Mei 2017. Namun, kalaupun saat bertandang ke Stadio Olimpico pesta mesti kembali tertunda, seperti pada laga sebelumnya, dua pertandingan terakhir Liga Italia harusnya sangat mudah dimenangkan.

Dua laga pamungkas itu adalah menghadapi Crotone pada Minggu 21 Mei 2017 dan Bologna pada Senin 29 Mei 2017. Keberadaan dua tim tersebut di papan bawah klasemen sudah menjadi ukuran Juventus harusnya menang mudah. Terlebih Crotone yang sampai pekan ke-35 masih berada di zona degradasi.

Kendala satu-satunya yang dihadapi Juventus datang dari konsentrasi. Pasalnya, selain mengincar scudetto, Bianconeri juga berambisi menjuarai Liga Champions Eropa tahun ini. Oleh karena itu, skuad besutan Massimiliano Allegri harus pandai-pandai menjaga fokus.

”Kami mengincar scudetto, tetapi kami akan fokus dulu untuk lolos ke final Liga Champions. Setelah itu baru memikirkan melawan AS Roma,” kata Allegri seperti dilaporkan Football Italia.

Selain tinggal selangkah mudah menyabet scudetto, Juventus juga berada di posisi yang terbilang tenang. Selisih tujuh poin dengan AS Roma di peringkat dua klasemen masih sangat jauh untuk terkejar. Total 85 poin milik Si Nyonya Tua diperoleh dari 27 kali menang, 4 hasil imbang, dan 4 kali kalah.

Sementara 78 poin milik AS Roma di peringkat dua didapat dari 25 kemenangan, 3 hasil imbang, dan 7 kali kalah. Artinya, AS Roma hanya bisa menikung scudetto jika menang di tiga pertandingan sisa dan pada saat yang sama Juventus kalah di semua pertandingan sisa.

Meskipun demikian, AS Roma enggan menyerah sebelum gelar juara benar-benar dipastikan. Kemenangan telak 1-4 atas AC Milan di kandang lawan pada pekan ke-35 menjadi bekal. Namun, bukan berarti terlampau percaya diri, penyerang Stephan El Shaarawy justru mengingatkan timnya untuk berhati-hati guna menjaga asa.

Tak sekadar scudetto

Di sisi lain, jomplangnya jarak poin antara Juventus dan AS Roma justru membuat prosesi memperebutkan peringkat dua Liga Italia terlihat lebih realistis. Pasalnya, di peringkat tiga Napoli hanya minus satu poin dari perolehan AS Roma. Oleh karena itu, secara hitung-hitungan, scudetto sebenarnya hampir sudah dipasrahkan untuk Juventus.

Bagi Juventus sendiri, gelar juara tahun ini tak sekadar scudetto. Jauh lebih mengerikan dari itu, titel juara akan mem­buat mereka menjadi kampiun Liga Italia enam kali berturut-turut. Jika benar-benar terjadi, Juventus menjadi klub pertama yang melakukannya di daratan Italia. Memecahkan rekor yang juga pernah mereka torehkan pada dekade 1930-an.

Menengok jauh ke belakang, Juventus mengukir sejarah manis dengan menjuarai Liga Italia lima kali berturut-turut. Itu terjadi saat pergelaran liga musim 1930-1931, 1931-1932, 1932-1933, 1933-1934, dan musim 1934-1935.

Lagi, Bianconeri mengulang rekor tersebut dalam pergelaran Liga Italia lima tahun terakhir. Selama rentang musim 2011-2012 sampai 2015-2016 tak ada tim yang mampu menghentikan Juventus menyabet gelar juara.

Prestasi Si Nyonya Tua yang lima kali berturut menjuarai Liga Italia sebenarnya sama dengan capaian dua klub Italia lainnya. Hal serupa pernah dilakukan rival sekota mereka, Torino, de­ngan menyabet gelar juara Liga Italia lima kali berturut meskipun harus diselingi terhentinya kompetisi. Itu terjadi pada musim 1942-1943, 1945-1946, 1946-1947, 1947-1948, dan 1948-1949. Pada 1944 dan 1945 kompetisi sempat terhenti karena Perang Dunia II.

Lima gelar juara beruntun juga ditorehkan Inter Milan di rentang musim 2005-2006 sampai musim 2009-2010. Gelar pada musim 2005-2006 merupakan hadiah kejutan karena scu­detto Juventus dicabut terkait dengan skandal Calciopoli.

Karena itu pula jika musim ini Juventus kembali berhasil meraih scudetto, bukan hanya sejarah bagi Bianconeri melainkan catatan penting dalam perjalanan sepak bola bangsa Italia. Enam kali berturut-turut menjadi juara Liga Italia adalah capaian pertama kali terjadi yang menandinginya di masa mendatang pun mesti dilakukan setengah mati.

Jika berhasil diraih, capaian tersebut hanya bisa dibandingkan dengan prestasi klub liga tetangga di daratan Eropa. Olimpique Lyonnais sudah lebih dulu menegaskan rekor fantastis dengan juara tujuh kali berturut-turut di Prancis, terhitung musim 2001-2002 sampai 2007-2008.

Sementara di liga lainnya, torehan yang diperoleh masih terbilang sama. Di Liga Spanyol, Real Madrid juara lima kali berturut-turut pada dua rentang waktu, yakni tahun 1960 sampai 1965 dan 1985 sampai 1990. Bahkan di Liga Jerman yang jumlah raihan juaranya terkesan amat didominasi dan timpang, Bayern Muenchen hanya bisa meraihnya secara beruntun dalam empat tahun dan itu terjadi dalam empat tahun terakhir.

Chelsea Greatly Win EPL Title


http://www.terbaruz.com/2017/05/chelsea-greatly-win-epl-title.html
Chelsea Greatly Win EPL Title

With a 1-0 win over West Brom on Friday, Chelsea clinched the English Premier League title, the club's sixth top division title in history. It's the culmination of a roller coaster two years in West London. The Blues won the title in 2015, fell to 10th and saw Jose Mourinho fired as manager in 2016, then hired Antonio Conte and won the title once again this season.

Typically, a jump from 10th to first in the Premier League would be a shocking turn of events. But Chelsea is not a typical club, and Conte not a typical manager.

Before the season, the ballyhooed arrival of Pep Guardiola at Manchester City and the summer spending spree by Mourinho at his new club, Manchester United, supposedly signaled a duel for the title between the two giants. But that line of thinking guilthy discounted the caliber of player left over from the Mourinho era and the managerial mastermind that is Conte.

Conte was the perfect hire for the Blues, his credentials perfectly suited for the task ahead. Starting in 2010, he coached Juventus back to Italian dominance and set them on the path toward success with his tactical genius, commitment to a particular philosophy and the ability to get his players to commit to that philosophy. While Chelsea's fall was never as bad as Juve's, a manager who could restore a club in crisis was exactly what the Blues needed.

Conte brought that same genius to his system with him to London. Through fantastic management, tactics superior to his counterparts, and a bit of luck via Chelsea's disastrous 2016 campaign, Conte was able to return Chelsea to the top of the Premier League, and make it look easy.

The strangest thing about Chelsea's fall from grace in 2016 was the bonkers amount of talent on the roster. It didn't make sense that Chelsea could only manage 10th in the table. It became clear that Mourinho, or rather the relationship between the players and Mourinho, was the problem when he was sacked and the club saw an immediate uptick under Guus Hiddink. At that point, though, it was far too late.

It was clear that any new face would be an upgrade from Mourinho, but Conte went above and beyond what was expected. Not only did he restore the team spirit, he built upon it. Whereas the 2016 edition of Chelsea was a group of individual stars, the 2017 edition was a team that worked beautifully in chorus.

The funny thing is, Conte built this cohesion the same way Mourinho did with his title-winning sides. Both managers believe in giving specific, strict instructions to their players. If every player knows his role and plays it, you're going to have a good shot at winning. So why did Conte succeed where Mourinho eventually failed? It could be that the squad simply needed a new voice to tell them the same message.

But believing Conte won by being Not-Mourinho sells his managerial acumen short. Conte is perhaps the best X's and O's coach in the world, and he showed it this season. When the year began, Conte attempted to adapt his style to England, running four defenders instead of three. The move backfired, and Chelsea lost twice in the first month or so of the season.

So Conte dropped the notion of adapting to England, and instead made England adapt to him. He switched to the three-man back following a 3-0 lost to Arsenal in September. That move was the impetus of a Premier League record 13-match winning streak that lasted until January. Conte's system confounded managers who weren't accustomed to anything like it in the English game. It took months for teams to figure out a way to stop it. By the time they did, Chelsea already had one hand on the title trophy.

(Just to show how much influence Conte has had over English soccer in just a few month, in a bid to salvage something from this season, Arsenal's Arsene Wenger, a manager who has stuck with the same general system and formation for nearly a decade, has started using a three-man defense.)

But Conte telling players their roles did not divine a title for Chelsea. Those players had to go out and execute.

The most integral piece of Chelsea's success was defensive midfielder N'Golo Kante. His steel in the midfield was a large part of Leicester's run to the title in 2016, just as it was a large part of Chelsea's this year. With a solid backline, Chelsea needed a destroyer who could be the last line between the attack and defense. Kante dicated games. He's a twofer who can keep the opposition from penetrating too far and start attacks by distributing from deep in the midfield. He's been the most valuable player in England two years running.

On the attacking end, Chelsea featured even more talent. Eden Hazard rebounded from scoring only four goals in 2016 with 15 in 2017. Diego Costa dropped the insufferable whiner routine (mostly) and scored 20. Pedro finally began to play the way he played during his heyday at Barcelona. Willian dropped free kick bombs any time the Blues got a chance near the box. Cesc Fabregas finally found his touch again as a through ball master. All those players suffered dips in their career and came roaring back from slumps this year.

And let's not forgett Victor Moses, the player most emblematic of the changes under Conte. After three years on loan, Moses returned to Stamford Bridge with hopes of being a rotation player on the wing. But Conte tasked him with converting to a wingback, and Moses committed to the role. Now he has more than 30 appearances patrolling the flank and has revitalized a promising career many fans and pundits believed was stalled.

Chelsea's turnaround has been an amazing achievement, but some of that success must be attributed to their failures last season, as contradictory as that might seem. The Blue's dismal finish kept them out of both the Champions and Europa Leagues. While that failure can hit the club in the pocketbook, it helps the club with regard to fitness.

By simply not playing in Europe, Chelsea was able to play anywhere between eight and 14 fewer games than their rivals for the Premier League title. This lack of European football also helped Leicester last season. Without the same glut of fixtures as the rest of the Premier League's top teams, Chelsea stayed fresh and healthy.

There's also a mental edge that comes with no Europe. While Arsenal, Manchester City and Tottenham are shuffling lineups and prioritizing matches trying to do what they can in the Premier and Champions League, Chelsea had one focus: win the EPL. With a single clear objective, there was no prioritizing to be done. The most important match was always the next one, and that allowed Conte to always put his best 11 on the pitch in Premier League matches.

Make no mistake, though, you don't win the league by virtue of playing in only one competition. You still have to know your roles. You still have to have a better game plan than your opponent. You have to outwork the man you're marking. You have to beat the man marking you. You have to go out, week after week, and put in a performance, no fuss no muss. You have to be professionals. You have to do your job.

Antonio Conte can build dynasty at Chelsea after Premier League

Frank Lampard has backed Antonio Conte to build a dynasty at Chelsea after the Blues wrapped up the Premier League title with victory at West Brom.
Former Italy boss Conte has now won four successive domestic titles as a manager after his triple success at Juventus between 2012 and 2014.


Conte's future at Stamford Bridge remains far from certain, though, with Inter Milan reportedly coveting the 47-year-old.

http://www.terbaruz.com/2017/05/antonio-conte-can-build-dynasty-at.html
Antonio Conte can build dynasty at Chelsea after Premier League

The Blues boss is hoisted into the air by his squad following their 1-0 victory over West Brom 
The ex-Juventus midfielder is likely to be offered a new contract at Chelsea, 12 months into the three-year deal he signed on joining last July.
And Lampard, who won three Premier League titles with the Blues, believes the Italian has all the ingredients to lead the club to lasting success should he stay.
Asked if he thought Conte could go on to build a dynasty, former Chelsea midfielder Lampard said: 'I think so.

http://www.terbaruz.com/2017/05/antonio-conte-can-build-dynasty-at.html
Antonio Conte can build dynasty at Chelsea after Premier Leagu

'If you're a Chelsea fan that's what you're hoping for now. The way he's held himself this year and the results have been different class.
'I think he's going to be backed, and he does need backing. It's a great squad of players they've got there. Maybe a freshen up, don't lose your best players and add one or two at the top end.'
Lampard, who left Stamford Bridge in 2014 to join Manchester City, claimed Chelsea were deserved champions but warned they might find it tougher next term.

http://www.terbaruz.com/2017/05/antonio-conte-can-build-dynasty-at.html
Antonio Conte can build dynasty at Chelsea after Premier League

Speaking to Sky Sports after Chelsea's 1-0 win against the Baggies on Friday, Lampard added: 'They are by far the strongest team this year.
'The consistency, the desire, the quality in the team - they deserve it, and they deserve that moment with their own fans.
'It will be a big test next year. The formation they play won't be a surprise for anybody and all the other teams behind them will be back stronger.'
Lampard, Chelsea's record goalscorer, won his three titles alongside club captain John Terry - who will leave the club this summer after a 19-year career at Stamford Bridge.

http://www.terbaruz.com/2017/05/antonio-conte-can-build-dynasty-at.html
Antonio Conte can build dynasty at Chelsea after Premier League

Former England captain Terry has now won five Premier League titles and Lampard suggested the 36-year-old's influence will be tough to replace.
'If he's going to leave this is the year to do it,' said 38-year-old Lampard.
'He hasn't played a huge part on the pitch, but the part he's played behind the scenes, I know for a fact, once he goes, everyone will appreciate him even more.
'Someone has to take the mantle now. He's such a big miss for them. Gary Cahill, maybe he'll step up even more now, but John Terry is so important for this club.'